Menghidupi Ekaristi dalam Komunitas dan Karya

Dalam hidup beriman, kadang muncul pertanyaan sederhana: bagaimana menghadirkan Tuhan dalam keseharian? Ternyata, bukan selalu lewat hal besar, tetapi justru lewat hal kecil yang dilakukan dengan tulus dan penuh kasih.

Komunitas bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi sungguh menjadi bagian dari Gereja yang hidup. Di sanalah iman belajar menjadi nyata, bukan hanya diucapkan, tetapi dijalani dalam sikap saling menerima, melayani, dan mengasihi. Karena itu, hidup bersama menemukan maknanya ketika berakar pada Ekaristi.

Tidak selalu ada kesempatan untuk mengikuti Ekaristi setiap hari. Namun semangatnya tetap bisa hidup. Dalam rasa syukur, dalam kesediaan untuk berkorban, dalam perhatian kecil kepada sesama, di situlah Ekaristi sebenarnya terus berlangsung dalam hidup sehari-hari.

Namun dalam kenyataan, hidup bersama tidak selalu mudah. Ada situasi yang kadang membuat hati lelah: sikap yang sulit dipahami, komunikasi yang terputus, atau suasana yang terasa tidak nyaman. Dalam situasi seperti ini, justru di situlah panggilan untuk menghidupi Ekaristi menjadi semakin nyata.

Menghayati Ekaristi dalam komunitas bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: berani menyapa, mencoba tetap bersikap baik, tidak membalas dengan sikap yang sama dan perlahan membangun komunikasi yang jujur namun lembut. Mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi langkah kecil itu bisa menjadi awal hadirnya kasih di tengah situasi yang tidak mudah.

Dari Ekaristi, hati belajar untuk menyerahkan diri. Perlahan, hidup dibentuk menjadi tempat kehadiran Tuhan. Dari situ juga datang kekuatan untuk tetap setia dalam tugas, dalam pelayanan dan dalam kehidupan bersama, meskipun tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Semua ini menjadi lebih dalam ketika dikenangkan dalam Kamis Putih. Di sana terlihat bagaimana Yesus mengasihi sampai tuntas tetap mengasihi bahkan dalam situasi yang tidak mudah, tetap melayani meskipun tidak selalu dimengerti. Itulah kasih yang dihadirkan dalam Ekaristi dan itulah yang perlahan diundang untuk dihidupi.

Dengan rendah hati, kita semua diajak untuk terus kembali pada sumber ini. Bukan dengan beban, tetapi dengan kerinduan untuk tetap hidup dalam semangat syukur, kasih dan pemberian diri, bahkan dalam hal-hal kecil seperti sapaan, perhatian dan kesabaran satu sama lain.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Linkdin
Share on Pinterest

Leave a comment