Sebuah Refleksi
Belajar melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar
Kadang-kadang, Tuhan mengajarkan sesuatu yang besar melalui hal-hal yang sangat sederhana. Bahkan dari rumput yang terus tumbuh dan sebuah mesin pemotong rumput yang rusak, kita dapat belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, kepedulian, dan cinta.
Di tengah upaya mengintegrasikan pengelolaan asrama dan sekolah, ada hal-hal sederhana yang ternyata menyimpan banyak makna. Salah satunya adalah tentang rumput yang terus tumbuh dan mesin pemotong rumput yang satu per satu mulai kehilangan kemampuannya untuk bekerja.
Di SMA Weleri ada tiga mesin pemotong rumput. Dua di antaranya merupakan mesin pembelian tahun 2016 dan 2018 yang kini sudah tidak dapat digunakan. Beberapa komponennya bahkan pernah diambil untuk memperbaiki salah satu mesin agar tetap dapat dipakai. Sementara satu mesin lainnya merupakan pemberian Rm. Marcel pada tahun 2023. Mesin ini masih dapat menyala, tetapi komponen besi fleksibelnya rusak/putus. Kemarin mesin tersebut digunakan untuk memotong rumput di depan ruang kuliner, tetapi pekerjaan belum dapat diselesaikan karena kerusakan tersebut.
Di sisi lain, ada hal yang menggembirakan. Dalam semangat integrasi asrama dan sekolah, anak-anak asrama mulai dilibatkan secara terjadwal untuk ikut menjaga dan merawat lingkungan. Beberapa anak bahkan sudah mampu mengoperasikan mesin pemotong rumput. Dari pekerjaan sederhana ini, mereka belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas orang lain, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
Melihat luasnya lahan yang harus dirawat, satu mesin yang masih berfungsi tentu belum mencukupi. Namun, situasi ini justru mengingatkan kita untuk tidak selalu menunggu sesuatu yang besar. Kita dapat mulai dari apa yang ada: merawat yang masih bisa digunakan, memperbaiki yang rusak, dan menambah apa yang memang diperlukan.
Semangat ini terasa begitu dekat dengan spiritualitas St. Theresia Lisieux, Pelindung Sekolah, yang mengajarkan kepada kita untuk melakukan hal-hal kecil dan sederhana dengan cinta yang besar. Karena yang membuat sebuah pekerjaan menjadi berarti bukan selalu besarnya pekerjaan itu, melainkan cinta yang kita letakkan di dalamnya.
Rumput yang dipotong mungkin terlihat sebagai pekerjaan kecil. Mesin yang diperbaiki mungkin hanya sebuah kebutuhan sederhana. Anak-anak yang belajar merawat halaman mungkin tampak sebagai kegiatan biasa. Tetapi ketika semuanya dilakukan dengan cinta, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan, hal-hal sederhana itu menjadi bagian dari proses pendidikan.
Di sanalah mungkin letak pendidikan yang sesungguhnya: mendidik anak bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui teladan untuk merawat, melayani, mengambil bagian, dan melakukan apa yang dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Karena itu, saldo pengerjaan pemasangan plafon yang masih tersedia menjadi sebuah kemungkinan yang dapat digunakan untuk memperbaiki mesin yang ada dan, bila memungkinkan, menambah satu mesin pemotong rumput.
Dan mungkin, di situlah kisah kecil ini menemukan maknanya.
Ketika disampaikan kepada Romo Direktur, jawaban yang datang pun sederhana:
“OK Suster.”
Dua kata yang sederhana, tetapi menjadi bentuk kepercayaan dan dukungan untuk melangkah, merawat apa yang ada, dan melakukan apa yang dapat dilakukan demi kebaikan bersama.
Pada akhirnya, yang sedang kita rawat bukan sekadar halaman sekolah agar tetap bersih dan rapi. Kita sedang belajar bersama untuk merawat apa yang dipercayakan kepada kita, melibatkan anak-anak dalam tanggung jawab, dan menghidupi semangat Theresiana: melakukan hal-hal sederhana dengan CINTA yang besar.
Sebab, ketika sesuatu yang sederhana dilakukan dengan cinta yang besar, yang kecil pun dapat menjadi besar dan berarti. (St. Theresia Lisieux)
Weleri, Jumat, 28 Agustus 2026
(Peringatan St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja)
Sr. M. Eligia Krisiani, AK